Waisaka Memancarkan Purnama Sidi di Candi Borobudur Saat Pandemi

Waisak atau Waisaka dikenal dengan nama Visakah Puja, atau Buddha Purnima adalah hari suci agama Buddha yang dirayakan setiap bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi).

MAGELANG ✪ Presiden Jokowi mengatakan pemerintah mengutamakan pembangunan 4 tujuan wisata super prioritas, yaitu Danau Toba, Candi Borobudur, Labuan Bajo dan Mandalika. Salah satu contoh untuk candi Borobudur, pemerintah menyalurkan dana melalui Kementerian Pariwisata untuk penataan Taman Wisata Candi.

PT Taman Wisata Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah merupakan salah satu BUMN yang mengelola 3 candi yaitu, Candi Borobudur, candi Ratu Boko dan candi Prambanan, seperti dijelaskan Direkturnya, Putu Sedana, “Borobudur sebagai tujuan wisata super prioritas, sejak itu pemerintah memberi anggaran besar untuk Boroburur dan kawasannya dengan prasarana jalan, trotoar, dan akses tol dari Bawen menuju Yogya, exit tolnya di Palbapang, arah menuju candi Borobudur.”

Sayangnya, Borobudur yang tiap tahun dikenal sebagai tempat berlangsungnya upacara Waicak (hari kelahiran, memdapat wahyu dan hari wafatnya Sidharta Gautama Buddha), sudah dua tahun ini sepi. Peringatan Waicak yang seharusnya dibanjiri oleh wisatawan dan para bhiku dari negara-negara Asia, dibatalkan karena pandemi.

Putu Sedana menambahkan, “Karena dari gugus tugas provinsi maupun nasional dan kementerian agama, dalam hal ini Dirjen Buddha, jadi untuk kegiatan perayaan Waicak di Borobudur ditiadakan, diganti dengan perayaan di tempat ibadah masing-masing.”

Desa Wisata
Taman Wisata candi Borobudur yang sudah berbenah sejak tahun 2018, akan sepi dari wisatawan pada tanggal 26 Mei nanti, tahun kedua pandemi ini.

“Yang datang ke candi Borobudur itu wisnus (wisatawan nusantara) sekitar 3,7 juta dan 300.000 lebih wisman (wisatawan mancanegara) setahun. Untuk sarana pendukung sudah ada Desa Wisata dengan kerajinan gerabah, lukisan, ada Desa Bahasa, perajin dari bambu, rotan, kayu dan bahkan sudah diekspor.”

Namun bagaimana kehidupan para perajin dan seniman di sekitar candi ketika sepi wisatawan? Seorang pemilik dan pelukis Limanjawi Art House, Umar Chusaeni mengatakan, “Selama ini boleh dibilang 80% justru wisatawan asing. Makanya pandemi ini kami sangat terpukul karena tidak bisa mengadakan pameran dan kunjungan wisatwan asing juga jarang. Jadi ya… kami prihatin lah.”

Limanjawi Art House yang dibangun oleh pelukis Umar Chusaeni. (foto courtesy)
Limanjawi Art House yang dibangun oleh pelukis Umar Chusaeni. (foto courtesy)

Padahal sebelum pandemi, ia selalu mengadakan pameran tetap dua bulan sekali, bersama dengan para seniman baik lokal maupun internasional. Umar Chusaeni, 49 tahun yang memprakarsai berbagai kesenian di sekitar candi Borobudur mengenang semasa kunjungan Ratu Denmark, Margarethe II ke sanggar seninya, tahun 2015.

“Ratu Denmark dan keluarganya ke sini, saya ditelepon dari kedutaan Denmark. Dia bilang, tolong sajian keseniannya 5 menit saja. Waduh, padahal saya sudah siapkan 20 menit. Jadi saya buat kolaborasi 2 grup kesenian Jatilan dan Jingkrak Sundang. Akhirnya mereka senang sekali karena keseniannya berbeda dan menarik,’ini kesenian terbaik yang pernah saya lihat’. Akhirnya ngobrol, ngopi jadi rencananya 30 menit, Ratu Margharithe di Limanjawi sampai 2 jam.”

Umar mengatakan, sebagai seniman ia tetap saja berkarya. Melukis merupakan kegiatan sehari-harinya. Ia baru saja menyelesaikan lukisannya berjudul “Entah” yang mencerminkan, entah sampai kapan pandemi ini akan berlalu.

Sementara, seorang pelaku bisnis, Eddy Sutrisno yang pada tahun 2019 (sebelum pandemi) meresmikan hotelnya, Khanaya mengatakan, “Karena sekarang ini Idul Fitri dan Waicak berdekatan di satu bulan Mei, maka pengusaha sektor pariwisata di candi Borobudur, mengeluhlah. Namun demikian, seperti saya pelaku bisnis wisata di Borobudur, saya mengembangkan promosinya di lokal, jadi satu provinsi begitu.”

Padahal sebelum berinvestasi membangun rumah makan dan hotelnya, Eddy telah melakukan studi dan mempelajari potensi yang terdapat di candi Borobudur dan sekitarnya.

“Potensi pariwisata dari Taiwan, China, Thailand ke candi Borobudur itu besar. Berarti saya sebagai pengusaha kota Magelang ikut mengembangkan. Karena respon yang bagus dari Dinas Pariwisata, maka saya mengembangkan restauran yang representatif untuk wisatawan. Setelah saya membuka restauran cukup bagus, maka saya melihat hotel yang kelas menengah artinya di bawah Amanjiwo bintang lima itu masih berpotensi untuk saya buka, maka saya mengembangkan hotel Khanaya.”

Pandemi tidak hanya merugikan pariwisata di Candi Borobudur, namun juga di seluruh dunia, terutama bagi para pelaku bisnis di sektor pariwisata yang kini masih menunggu pulihnya keadaan setelah terkendalinya COVID-19. [ps/em]

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: