Seorang Jenderal Selamat Sebelum Pesawat Militer Filipina Hercules C-130 Jatuh

MANILA, FILIPINA ✪ Sebuah pesawat Hercules C-130 milik Angkatan Udara Filipina yang mengangkut sejumlah pasukan militer sebagaimana sebelumnya dipersiapkan untuk operasi tempur menghadapi milisi pemberontak, jatuh dan meledak ketika mendarat di Filipina Selatan pada Minggu (4/7).

Insiden tersebut mengakibatkan sedikitnya 42 prajurit dalam pesawat berikut 3 warga sipil yang berada di darat tewas seketika. Kecelakaan ini merupakan musibah terburuk dalam sejarah angkatan udara negara itu.

Sedikitnya 49 prajurit berhasil diselamatkan dalam kondisi luka-luka, pesawat tersebut jatuh di kebun kelapa di luar bandara Jolo di provinsi Sulu.

Pihak berwenang setempat menggambarkan, para korban berhasil selamat termasuk mereka yang sempat melompat keluar pesawat sebelum pesawat meledak dan terbakar. Tiga dari 7 warga yang berada di lokasi kecelakaan tewas di tempat.

Pesawat Hercules C-130 itu mengangkut 96 penumpang, termasuk 3 pilot dan 5 awak sementara sisanya prajurit tentara. Meski demikian hingga Minggu malam, 5 prajurit masih belum ditemukan, dan para pilot dipastikan selamat, kendati menderita luka parah.

Pesawat Hercules C-130 itu adalah salah satu dari dua pesawat bekas Angkatan Udara Amerika Serikat yang diserahkan ke Filipina sebagai bagian dari bantuan militer tahun ini.

Kronologis pesawat tersebut berawal ketika lepas landas (take-off) dari Manila membonceng seorang jenderal bintang dua, Romeo Brawner Jr., yang turun bersama istri berikut tiga anaknya di kota Cagayan de Oro, di mana sebelumnya dirinya menjabat sebagai komandan pengintai akan dipromosikan menjadi komandan regional militer yang baru.

Brawner terkejut saat mengetahui bahwa pesawat yang ia tumpangi sebelumnya itu jatuh.

“Kami bersyukur selamat, tapi sangat sedih karena banyak korban kehilangan nyawa,” ujar Brawner kepada Associated Press.

Para korban luka-luka segera dilarikan ke rumah sakit setempat di Sulu untuk diterbangkan ke kota terdekat di Zamboanga. Pasukan terus mencari sisa prajurit militer yang masih hilang.

“Sejumlah tentara tampak melompat keluar pesawat sebelum jatuh, dan mereka selamat dari ledakan dalam musibah itu,” demikian pernyataan berwenang mengutip keterangan para saksi.

Pesawat itu mengangkut sejumlah pasukan militer yang sebagian di antaranya merupakan prajurit muda yang baru saja lulus pendidikan pelatihan dasar, dari kota Cagayan de Oro selatan untuk penugasan di Sulu.

“Mereka seharusnya bergabung dengan kami dalam operasi melawan terorisme,” tutur komandan militer Sulu Mayor Jenderal William Gonzales.

Selama dasawarsa pasukan pemerintah telah memerangi milisi Abu Sayyaf di Provinsi Sulu yang mayoritas berpenduduk muslim.

Meski demikian belum dapat dipastikan penyebab pesawat jatuh. Komandan militer regional Letnan Jenderal Corleto Vinluan mengatakan, kecil kemungkinan pesawat itu ditembak musuh, dan mengutip keterangan sejumlah saksi, pesawat itu tampaknya telah meluncur melampaui landasan pacu selanjutnya jatuh di pinggiran bandara.

Kepala staf militer Jenderal Cirilito Sobejana menjelaskan kepada wartawan, “Pesawat itu tergelincir dari landasan pacu dan berupaya mengembalikan tenaga mekanik, tetapi gagal dan lalu jatuh.”

Seorang pejabat angkatan udara melisankan, landasan pacu bandara Jolo lebih pendek dari landasan pacu lain di negara itu, sehingga menyulitkan bagi pilot untuk keseimbangan pesawat saat lepas landas maupun mendarat.

Presiden Rodrigo Duterte memperluas kehadiran militer di Sulu hingga menjadi satu divisi penuh pada akhir 2018. Duterte mengerahkan ratusan prajurit tambahan, pasawat angkatan udara dan peralatan tempur lain setelah berikrar akan menumpas milisi Abu Sayyaf, dan sekutu asing maupun lokal.

Angkatan Udara Filipina memiliki sejarah musibah tragis. Salah satu pesawatnya jatuh di Manila Utara pada 1971 dan menewaskan 40 prajurit militer.

Baru-baru ini sebuah helikopter Blackhawk S-701 lebih dari sepekan juga jatuh di dekat pangkalan udara AS di Clark freeport, dan menewaskan 6 prajurit angkatan udara.

Lebih jauh, pemerintah Filipina beberapa warsa memodernisasi militernya untuk menghadapi para milisi pemberontak dan kontradiksi teritorial dengan negara China di Laut China Selatan.

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: