Sentuhan Novelis Abdulrazak Gurnah Menggurat Karya Sastra

HIBURAN ✪ Penulis Tanzania yang tinggal di Inggris, Abdulrazak Gurnah, yang pengalamannya di beragam benua dan budaya telah membuatnya menulis novel tentang dampak migrasi pada individu dan masyarakat, hari Kamis (7/10) memenangkan hadiah Nobel Sastra.

The Swedish Academy mengatakan penghargaan itu merupakan pengakuan atas “sikap tanpa kompromi dan belas kasihan atas dampak kolonialisme dan nasib pengungsi.”

Gurnah, yang baru-baru ini pensiun sebagai profesor sastra pasca-kolonial di Universitas Kent, mendapat telpon dari The Swedish Academy di dapur rumahnya di bagian tenggara Inggris, dan awalnya mengira hal ini adalah lelucon. Ia mengatakan “terkejut dan merasa rendah hati” menerima penghargaan itu.

Lahir pada tahun 1948 di Pulau Zanzibar, kini merupakan bagian dari Tanzania, Gurnah pindah ke Inggris sebagai pengungsi remaja pada tahun 1968. Ia melarikan diri dari rezim represif yang menganiaya komunitas Muslim-Arab di mana ia berasal.

Gurnah mengatakan ia “jatuh cinta” untuk menulis setibanya di Inggris sebagai cara untuk mengeksplorasi rasa kehilangan dan pembebasan dari pengalaman emigran.

Gurnah adalah penulis 10 buku, sebagian besar mengeksplorasi apa yang disebutnya sebagai “salah satu kisah pada masa kita,” dampak nyata migrasi baik pada orang-orang yang tercerabut dari rumah mereka dan tempat di mana mereka membangun rumah yang baru.

Gurnah, yang berbahasa ibu Swahili tetapi menulis dalam bahasa Inggris, merupakan satu-satunya dari enam penulis keturunan Afrika yang dianugerahi Nobel Sastra, yang selama ini telah didominasi penulis Eropa dan Amerika Utara sejak akademi ini dibentuk tahun 1901. [em/lt]

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: