Presiden Mali Resmi Mengundurkan Diri dalam Tekanan Pemberontak Bersenjata

BAMAKO, MALI ✪ Presiden Mali Ibrahim Boubacar Keita mengumumkan pengunduran dirinya Selasa malam, beberapa jam setelah tentara pemberontak bersenjata menangkap paksa dari kediamannya.
Keita, terpilih secara demokratis pada tahun 2013 dan terpilih kembali lima tahun kemudian.
Sementara, perebutan kekuasaan yang dramatis itu terjadi setelah protes anti-pemerintah menuntut penggulingannya.
Tentara pemberontak berhasil merebut senjata dari gudang di kota garnisun Kati dan kemudian maju ke ibu kota Bamako. Mereka menahan Perdana Menteri Boubou Cisse bersama dengan presiden Ibrahim Boubacar Keita.
Mediator regional dari ECOWAS (Masyarakat Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat) gagal menjembatani kebuntuan antara pemerintah Keita dan para pemimpin oposisi, dan menciptakan kecemasan yang memuncak tentang pergantian kekuasaan yang dipimpin militer.
Para mediator regional telah mendesak Keita untuk berbagi kekuasaan dalam pemerintahan, tetapi tawaran itu ditolak oleh para pemimpin oposisi dan mengatakan tidak akan berhenti sampai penggulingan Keita.
Sementara itu, berita pengunduran diri Presiden Ibrahim Boubacar Keita disambut dengan kegembiraan oleh para demonstran anti-pemerintah dan kekhawatiran oleh bekas jajahan kolonial Prancis, dan sekutu serta negara asing lainnya.
Keita dalam situasi tekanan, berbicara langsung di lembaga penyiaran nasional ORTM sebelum tengah malam, ia mengenakan masker di tengah pandemi COVID-19, dan mengatakan pengunduran resmi dirinya.
“Saya berharap tidak ada darah yang tertumpah untuk membuat saya tetap berkuasa. Saya telah memutuskan untuk mundur,” kata Keita.
Dirinya juga mengumumkan bahwa pemerintahanya dan Majelis Nasional akan dibubarkan.
Associated Press (AP)  
Interaksi Berita