Presiden dan Perdana Penteri Mali Diculik oleh Pasukan Pemberontak

BAMAKO, MALI ✪ Tentara pemberontak telah menahan presiden dan perdana menteri Mali setelah mengepung kediaman dalam upaya kudeta setelah beberapa bulan demonstrasi yang menyerukan penggulingan Presiden Ibrahim Boubacar Keita, Selasa.
Para prajurit bergerak di jalan-jalan Bamako dan mereka menguasai ibu kota. Sementara ini belum ada komentar langsung dari pasukan tersebut yang berasal dari barak militer di Kati, tempat kudeta sebelumnya pernah terjadi sekitar lebih dari delapan tahun lalu.
Ketua Uni Afrika Moussa Faki Mahamat mengutuk “penahanan paksa” para pemimpin Mali dan menyerukan pembebasan segera.
Perkembangan pergolakan tersebut juga dikecam oleh Amerika Serikat, PBB, blok regional yang dikenal sebagai ECOWAS (Masyarakat Ekonomi Negara-Negara Afrika Barat) bekas jajahan Prancis, bersama dengan misi penjaga perdamaian telah bekerja sejak 2013 untuk menstabilkan negara Afrika Barat tersebut.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta “pemulihan segera tatanan konstitusional dan supremasi hukum,” kata Stephane Dujarric, juru bicara PBB.
Penahanan itu merupakan perubahan dramatis bagi Keita, sebagaimana tujuh tahun sebelumnya muncul lebih dari dua lusin kandidat untuk berjuang memenangkan pemilu demokratis pertama Mali pasca-kudeta, dan dirinya memenangkan lebih dari 77 persen suara dalam pemilihan.
Mediator regional dari ECOWAS gagal menjembatani kebuntuan antara pemerintah Keita dan para pemimpin oposisi, dan menciptakan kecemasan yang memuncak tentang pergantian kekuasaan yang dipimpin militer.
Kudeta tersebut adalah pengulangan kembali dari peristiwa tahun 2012, dimana kekacauan di Mali terjadi ketika kekosongan kekuasaan yang memungkinkan kelompok ekstremis menguasai kota-kota utara. Pada akhirnya operasi militer yang dipimpin Prancis berhasil menggulingkan kelompok jihadis, kemudian memperluas jangkauan selama masa kepresidenan Keita ke Mali tengah.
 
Pada 21 Maret 2012, pemberontakan serupa meletus di kamp militer Kati ketika perwira militer yang dipimpin oleh Kapten Amadou Haya Sanogo melakukan serangkaian kerusuhan. Setelah merebut senjata, Sanogo kemudian menuju kursi pemerintahan.
Lebih lanjut, Sanogo akhirnya dipaksa untuk menyerahkan transisi kekuasaan kepada pemerintahan sipil yang kemudian menyelenggarakan pemilihan dan dimenangkan oleh Keita.
Para mediator regional telah mendesak Keita untuk berbagi kekuasaan dalam pemerintahan, tetapi tawaran itu ditolak oleh para pemimpin oposisi dan mengatakan tidak akan berhenti sampai penggulingan Keita.
Associated Press (AP)
Interaksi Berita