Menggapai Pendidikan di Lintas Diaspora Indonesia

Tinggal puluhan tahun di AS, tak menghentikan diaspora Indonesia untuk ikut memajukan tanah air. Dalam bidang pendidikan, diaspora yang berprofesi dosen meluangkan waktu untuk memberi kuliah, mengajar, bahkan membantu mahasiswa atau dosen di Indonesia untuk ke AS. Pandemi memudahkan upaya mereka.

KANSAS ✪ Diaspora Indonesia yang berprofesi sebagai dosen di Amerika termasuk kelompok yang berkegiatan secara daring, pandemi memudahkan mereka mengajar baik di Amerika maupun juga menjangkau mahasiswa di Indonesia.

Prof. Teruna Siahaan, peneliti dan pengajar kimia pada Fakultas Farmasi, University of Kansas, sudah hampir 40 tahun tinggal di Amerika. Ia datang sebagai mahasiswa program doktoral, lalu mengajar dan menetap di Amerika. Sejak tahun lalu ia mengajar untuk beberapa perguruan tinggi negeri.

“Di Unpad (Universitas Padjadjaran) saya memberi empat kuliah di satu topik, dan empat kuliah di topik lain. Demikian juga ke FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) pascasarjana, ada beberapa kuliah saya berikan. Tetapi juga saya selalu diundang memberikan lecture di berbagai universitas, termasuk Universitas Indonesia, Airlangga, Undip (Universitas Diponegoro),” ujarnya.

Prof. Taifo Mahmud, dosen farmasi dan kimia pada Oregon State University, tahun ini mengajar untuk Universitas Negeri Riau, Universitas Sumatera Utara dan Universitas Padjadjaran. Mata kuliahnya seputar kimia dan farmasi. Mahasiswanya dari tingkat sarjana hingga pasca sarjana.

“Per mata kuliah barangkali ada dua kali masuk. Jadi, overall banyak juga ngajarnya,” kata Taifo.

Tidak mudah memberi kuliah dari Amerika ke Indonesia. Isu utamanya adalah perbedaan waktu yang sampai belasan jam. Bagi Teruna dan Taifo, perbedaan waktu itu memang bukan soal, tetapi sangat membatasi waktu mereka memberi kuliah.

Meluangkan waktu pribadi dipilih Teruna agar bisa berbagi ilmu dengan mahasiswa dan rekan dosen di Indonesia. Ia mengajar di sela-sela waktunya memberi kuliah di Kansas dan meneliti.

Biasanya pagi, kata Teruna yang selalu bangun pukul 5:30 pagi. “Delapan pagi, berarti delapan malam sana, atau delapan malam Kansas, delapan pagi (di) sana atau terkadang jam sembilan.”

Setelah jam 9 malam, Teruna ‘nyerah’. Ia terus terang mengakui akan merasa mengantuk dan menolak mengajar selepas jam itu.

Pengalaman Prof. Teruna dan Prof. Taifo, sebagai dosen, peneliti dan orang yang sudah lama tinggal di Amerika, sangat dibutuhkan mahasiswa di Indonesia.

Filia Stephanie pernah mengikuti kuliah Prof. Teruna. Ia merasa tidak hanya mendapat ilmu dan pengetahuan tetapi juga bayangan masa depan.

“Materi yang disampaikan padat dan tidak dangkal,” ujar Filia, mahasiswa S3 tahun ketiga Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia.

Filia menambahkan, “Beliau menjelaskannya runut dan sampai ke aplikasinya, apalagi beliau telah melakukan (penelitian dan pengembangan obat) sendiri. Tidak banyak dosen di kampus saya yang membawakan kelas seperti itu.”

Filia kini sedang bersiap ke Kansas dan melakukan penelitian di bawah bimbingan Prof Teruna. Fokusnya adalah mengambil data untuk disertasi. Setelah itu, ia berharap bisa kembali untuk pasca doktoral.

Sosok Prof Teruna, kata Filia yang berencana menjadi akademisi, memotivasi mahasiswa berkiprah di luar, bersaing secara global, dan bahwa orang Indonesia pun mempunyai peluang di luar sana.

“Bisa sukses dalam bidang akademik, kalau bisa sampai di detik beliau saat ini, sudah bukan tentang otak saja, pasti kan tentang etos kerja dan juga attitude beliau. Dan itu tercermin dari apa yang beliau sampaikan ketika di kelas,” puji Filia.

Selain memberi kuliah daring ke Indonesia, sudah beberapa tahun ini Prof Taifo mendatangkan dosen dan peneliti dari Indonesia ke Oregon State University (OSU). Salah satu dari mereka adalah Yuana Nurulita, koordinator lab riset Universitas Riau (Unri).

Yuana kini menjadi penanggung jawab kerja sama Fakultas MIPA Unri dengan College of Pharmacy OSU. Kerjasama ia dapatkan sewaktu melakukan penelitian pasca doktoral enam bulan di OSU dari September 2019 hingga Maret 2020.

Menurut Yuana, pihak Unri dan mahasiswa sangat senang dengan adanya kerja sama itu karena membuka wawasan. Bukan hanya mahasiswa, dosen pun hadir dalam kelas Prof Taifo sehingga jumlah peserta yang seharusnya maksimal 40 menjadi 50.

“Kita pasti ingin tahu teknologi-teknologi terbaru yang sekarang lagi in dan lagi diaplikasikan,” katanya.

Yuana berharap, mahasiswa Unri suatu saat bisa ke luar negeri untuk penelitian maupun melanjutkan kuliah. Selain itu, Unri kini mencari kesempatan meluaskan kerja sama itu dengan fakultas-fakultas lain.

“Apakah nanti mahasiswa saya bisa riset. Fasilitas di luar negeri, sistem labnya, sistem risetnya, sangat berbeda dengan kita yang di dalam negeri. Jadi, environment penelitian yang sesungguhnya bisa didapat,” imbuh Yuana.

Dalam situs kedutaan besar Indonesia (KBRI) di Washington DC, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Popy Rufaidah mengatakan bahwa apa yang dilakukan dosen-dosen itu adalah bagian dari kerja sama KBRI dengan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia.

Kerja sama yang melibatkan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional itu untuk menunjang program “Merdeka Belajar,” kebijakan yang diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan dimulai semester ganjil tahun lalu.

Namun bagi Taifo apa yang dilakukannya semata didorong oleh “…keinginan supaya pendidikan di Indonesia bisa (lebih) maju lagi,” harapnya. [ka/ab]

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: