Mempertahankan Kualitas Sinematografer Indonesia di Negeri Paman Sam

HIBURAN ✪ WASHINGTON, D.C – Pergelaran tahunan Los Angeles Indonesian Film Festival di AS, acara diskusi virtual lintas negara itu dilaksanakan bersama tokoh-tokoh di bidang perfilman Indonesia dan AS, yang membahas mengenai proses penggarapan film di era “the new normal” yang penuh tantangan baru.
Meluasnya perebakan pandemi virus corona atau Covid-19 menimbulkan dampak ke seluruh bidang, termasuk industri film. Berbagai produksi film terhambat dan sebagian besar bioskop di seluruh dunia terpaksa tutup.
Menurut situs hiburan, Hollywood Reporter, pendapatan dari penjualan tiket film dunia pada pertengahan Maret turun sekitar 7 miliar dolar atau setara dengan Rp 103 triliun.Hal ini antara lain karena penutupan bioskop di China, disusul oleh penutupan bioskop-bioskop di seluruh dunia.
Sebelum pandemi, situs World Economic Forum menyebutkan, pendapatan dari penjualan tiket film secara global pada tahun 2019, berhasil mencatat rekor, yaitu 42 miliar dolar atau setara dengan Rp 620 triliun.
Ketika sebagian negara memasuki era kelaziman baru atau “new normal,” pelaku industri film juga berusaha bangkit, beradaptasi, dan mencari beragam cara baru agar roda industri ini terus berputar.
Inilah yang belum lama ini menjadi salah satu topik pembahasan utama dalam rangkaian diskusi di ajang tahunan Los Angeles Indonesian Film Festival (LAIFF), yang salah satunya mengangkat tema “The Future of Daily Life on Movie Sets” atau masa depan kehidupan sehari-hari di lokasi syuting film.
“Pada saat mulai proses lockdown dan sebagainya, aku sempat berbicara dengan beberapa sineas, (termasuk) sineas yang di Indonesia juga. ‘Gimana nih, istilahnya, proses syuting bakal seperti apa sih?’ Nah, jadi dari situlah terpikir kita tuh satu tim gimana ya caranya kita membuat sebuah diskusi,” jelas Endah Redjeki, pencetus dari LAIFF yang berdomisili di Los Angeles, California.
Diskusi dalam bahasa Inggris ini berhasil menarik perhatian para pecinta dan pelaku di industri film, yang menonton secara virtual dari berbagai negara, melalui berbagai platform di media sosial.
“(Para penonton) surprise sekali bahwa materi yang kita sampaikan itu memang adalah materi yang cukup sangat edukatif, terutama untuk filmmaker, bagaimana mereka mempersiapkan proses produksi sebuah film nantinya, karena ada masa pandemi ini,” jelas Endah.
Diskusi padat berdurasi satu jam ini menampilkan tokoh-tokoh kenamaan di bidang film, seperti sutradara Ernest Prakasa, Joko anwar, dan Riri Riza, serta produser sekaligus kepala dari IDN Pictures, Susanti Dewi, juga Scott Sakamoto, Story/Community Relations Production Supervisor untuk Walt Disney Animation Studios di California.
“Dari segi line-up, sangat komplit ya, dari yang produser, sutradara, bahkan ada nara sumber yang dari Disney juga bisa ngasih insights atau wawasan yang kita nggak tahu gitu, jadi semoga bermanfaat ya buat orang-orang yang menyimak,” kata Ernest Prakasa.
Memasuki tahun ketujuh, acara LAIFF kali ini memang lain dari biasanya, di mana pelaksanaannya dilakukan oleh tim yang berada di dua negara yang berbeda, yaitu Indonesia dan Amerika Serikat.
“Acaranya dan panelisnya sungguh luar biasa,” ujar Scott Sakamoto saat diwawancara oleh VOA.
Kesulitan di Nuansa Pandemi
Sebagai pekerja kreatif, salah satu hal yang cukup menantang Ernest Prakasa adalah ketika berhadapan dengan “mood” alias suasana hati, di tengah era yang penuh ketidakpastian ini. Apalagi ketika dituntut untuk tetap produktif.
“Misalnya, kayak nulis skenario gitu atau create content. Yang paling berat itu adalah “mood” sih, karena kita dalam keadaan yang cukup tertekan sebenarnya, mentally we’re not okay,” tambah sutradara kelahiran tahun 1982 ini.
Sebagai seniman di industri animasi, pekerjaan Scott Sakamoto, tidak begitu terdampak oleh pandemi, mengingat hampir seluruh proyeknya bisa dikerjakan menggunakan komputer dari rumah masing-masing. Namun, tentu saja ada kebiasaan-kebiasaan yang hilang, salah satunya saat harus berdiskusi dengan sesama.
“Salah satu tantangan yang kita hadapi di bagian penulisan cerita adalah, (ada) ruangan yang menjadi tempat berkreasi dimana kita bertukar pikiran dan merasakan energi dari masing-masing orang. Dan ketika (mendengarkan) dari layar (lewat virtual), energinya berbeda dan sedikit melelahkan,” jelas Scott Sakamoto yang kini tengah terlibat dalam penggarapan film “Raya and the Last Dragon” ini.
Agar komunitas tetap terjalin, pihak Walt Disney Animation Studios meminta kepada para karyawannya untuk menyalakan kamera mereka di setiap akhir pertemuan, agar bisa saling memandang wajah satu sama lain.
“Banyak sekali orang (yang bekerja) di gedung kami dan (kini) kami jarang melihat wajah satu sama lain yang biasanya selalu kami lihat setiap harinya. Jadi momen itu menjadi waktu untuk melihat satu sama lain dan merasakan kembali adanya komunitas,” kata Scott Sakamoto.
Syuting di Era Pandemi
Selain mengenai tantangan, diskusi LAIFF kali ini juga membahas berbagai elemen dalam produksi, seperti proses syuting, protokol kesehatan, dan juga masalah anggaran di era pandemi.
Melalui acara ini Joko Anwar bercerita mengenai tiga proyek filmnya yang sempat tertunda karena pandemi. Dua diantaranya adalah film superhero dari Bumi Langit Cinematic Universe, di mana ia menjadi salah satu produsernya.
“Kami berhenti kerja sekitar awal Maret atau akhir februari, tapi sekarang sudah dilanjutkan tanggal 1 Juli dan akan masuk proses syuting. Tapi, dua film lainnya yang saya produseri tidak akan lanjut hingga Oktober untuk tahap pra produksi,” kata Joko Anwar.
Ernest Prakasa sendiri kini tengah mempersiapkan proses syuting serial terbarunya yang diadaptasi dari film terakhirnya yang berjudul “Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan,” yang akan dirilis melalui layanan streaming. Proses syuting rencananya akan segera berlangsung bulan September mendatang. Menurut Ernest, “keribetannya banyak” dalam menggarap film di tengah pandemi.
Strategi Baru
Strategi baru di era “the new normal” juga menjadi tantangan bagi Joko Anwar, khususnya saat harus menggarap film superhero bertema laga, yang penuh dengan adegan perkelahian. Salah satunya dengan mengkarantina bersama para pemain dan pemeran pengganti di satu tempat.
“Sebelum dikarantina, mereka akan di tes untuk meyakinkan mereka negatif dan mereka akan tinggal di sana, untuk mengikuti proses pelatihan koreografi, untuk adegan perkelahian,” ujar Joko Anwar.
Kualitas Prima
Walau harus mencari strategi baru dan anggaran melonjak, satu hal yang tentunya tidak akan pernah dikorbankan oleh para sineas ini adalah kualitas. Lewat acara ini, Susanti Dewi mengatakan, mereka akan mencari segala cara untuk tetap mempertahankan kualitas.
“Bagi saya kualitas bukanlah sesuatu yang bisa dikorbankan, tetapi lebih kepada bagaimana kita menemukan solusi, untuk terus melanjutkan produksi, dengan lebih bertanggung jawab dan aturan yang diperlukan,” jelasnya.
Ajang LAIFF akan segera berlanjut ke diskusi kedua, yang mengangkat tema mengenai tahap setelah pasca produksi, yang merupakan kelanjutan dari diskusi sebelumnya. Acara ini akan menampilkan CEO MD Pictures, Manoj Punjabi, Content Manager Poplicist Publicist, Ivan Makhsara, Pendiri/CEO IDN Media, Winston Utomo, dan Wakil Kepala Fakultas USC School of Cinematic Arts di Los Angeles, Akira Mizuta Lippit.
“Jadi kita bicara khusus mengenai marketing dan promotion strategies (di era kebiasaan baru),” ujar Endah.
Diskusi ke-2 yang akan diselenggarakan secara virtual tanggal 18 September mendatang waktu Indonesia ini, akan kembali bekerja sama dengan dua universitas ternama di Amerika Serikat, yaitu USC School of Cinematic Arts di Los Angeles dan UCLA Center for South East Asian Studies. Acara ini juga didukung oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Los Angeles, California. [di/em]
VOA Direct Journalist  
Interaksi Berita