Khawatir Keselamatan, Mantan Agen CIA Melarikan Diri dari Italia ke AS

ROMA ✪ Mantan mata-mata Central Intelligence Agency (CIA) AS, yang mendapat pengampunan dari pihak berwenang Italia, sebagaimana dinyatakan bersalah atas penculikan dan penyiksaan di Italia karena perannya terhadap Imam Muslim Abu Omar. Surat kabar Italia, ‘Corriere della Sera’ merilis bahwa Sabrina de Sousa telah melarikan diri dari Italia ke Amerika Serikat karena khawatir akan keselamatannya, Minggu (27/10).
Sabrina de Sousa berkebangsaan Portugis – Amerika salah satu dari 26 orang yang dihukum oleh pihak berwenang Italia, diadili dan dihukum tanpa dihadiri oleh terdakwa (in absentia) atas perannya dalam penculikan dan penyiksaan Ulama Mesir, Hassan Mustafa Osama Nasr pada 2003, di mana ia menyangkal keterlibatannya.
De Sousa ditangkap di Portugal di bawah surat perintah penangkapan pada 2015. Dia diekstradisi kembali ke Italia untuk menjalani hukumannya selama empat tahun penjara, setelah kehabisan hak banding terhadap ekstradisinya di Portugal. Presiden Italia mengeluarkan pengampunan yang mengakhiri proses ekstradisi de Sousa pada Februari 2017.
Sementara itu De Sousa bersedia melakukan pengabdian sebagai masyarakat di Italia hingga tahun depan setelah Presiden Italia memberikan grasi atau meringankan hukumannya, tetapi dia memutuskan untuk melarikan diri dari negara itu setelah Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dan Direktur CIA Gina Haspel mengunjungi Roma pada awal Oktober ini.
“Saya takut konsekuensi yang akan saya hadapi,” kata kewarganegaraan ganda itu seperti diberitakan surat kabar setempat, Corriere della Sera.
Kedatangan Direktur CIA, Gina Haspel di Italia menegaskan kepada pemerintah Italia bahwa pemerintah AS telah menyangkal, dan cuci tangan atas kasus De Sousa.

Esensi kasus tersebut adalah Skandal Imam Rapito yang melibatkan tuduhan penculikan Abu Omar oleh CIA, dan dipindahkan ke Pangkalan Udara Aviano

Rizal Tanjung
Pompeo mengunjungi Italia pada awal Oktober, sementara Haspel bertemu dengan kepala dinas rahasia Italia di Roma pada 9 Oktober. Sejauh ini, mereka mengaku tidak ada hubungan antara pertemuan dengan kasus De Sousa.
Pengacara Italia, Andrea Saccucci telah mengajukan banding ke Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa atas nama De Sousa, dan mengkonfirmasi pada Minggu (27/10), bahwa kliennya telah meninggalkan Italia tetapi tidak dapat menjelaskan mengapa dia kembali ke Amerika Serikat meskipun khawatir tentang keputusan administrasi AS.
“Dia hanya mengatakan kepada saya, bahwa dirinya sekarang berada di Amerika,” kata Saccucci kepada Reuters.
Meski demikian lebih lanjut, tuduhan tetap digulirkan kepada De Sousa oleh sistem peradilan Italia sebagai petugas intelijen. Mereka mengklaim bahwa dia adalah bagian dari jaringan CIA, bertugas di bawah perlindungan diplomatik, dan mengaku sebagai diplomat.
Penculikan Nasr, juga dikenal sebagai Abu Omar, sebagaimana bagian dari program “rendisi luar biasa” CIA untuk menangkap para tersangka terorisme di berbagai negara dan memindahkan mereka secara rahasia untuk menjalani interogasi di negara-negara ketiga.
Ulama Mesir, Abu Omar mengatakan dia disiksa setelah dipindahkan ke Mesir di bawah program tersebut, sebuah aspek “perang melawan teror”, dalam hal ini Presiden George W. Bush ketika itu mendapat kecaman keras dari kelompok-kelompok hak asasi manusia dan bahkan sekutu AS.
De Sousa akhirnya tetap menyatakan tidak bersalah, dan mengatakan bahwa dia tidak berada di Milan pada hari penculikan itu, dia mengaku bekerja secara metode infiltrasi penyamaran untuk CIA ketika penculikan terjadi. Ia juga menyatakan tidak berperan, dan tidak mengetahui rencana tersebut.
Interaksi Berita