Kelompok Keberagaman dan Sekuler Menentang UU Diskriminatif India

NEWDELHI ✪ Fauzia adalah satu di antara lautan demonstran di New Delhi yang menuntut agar pemerintah membatalkan undang-undang baru yang memperkenalkan agama sebagai suatu kriteria kewarganegaraan bagi kelompok minoritas yang teraniaya di negara-negara tetangga.
“India akan menerima orang dari seluruh agama, kecuali Muslim. Ini menciptakan ketidaksetaraan. Pemerintah merusak struktur dasar negara,” kata Fauzia.
Sebagian perempuan yang meneriakkan kata-kata “freedom” atau “kebebasan” di luar Universitas Jaia Millia Islamia menyembunyikan wajah mereka dan tidak bersedia menyebut nama asli mereka kepada wartawan. Mereka adalah para ibu rumah tangga -tua muda- yang bergabung dengan para mahasiswi.
Ini merupakan halyang tidak biasa karena warga Muslim umumnya tidak pernah mempelopori demonstrasi di India, dan kabanyakan perempuan Muslim memilih tidak tampil di hadapan publik.
Para demonstran juga menuntut pemerintahan nasionalis-Hindu pimpinan Perdana Menteri Nadrenda Modi untuk membatalkan rencana pendaftaran warga, yang mengharuskan semua warga India untuk menunjukkan bukti kewarganegaraan mereka.
Jaminan pemerintah bahwa warga Muslim-India tidak akan kehilangan kewarganegaraan mereka, gagal meredam kekhawatiran bahwa pengucilan mereka dari undang-undang yang baru diberlakukan akan membuat mereka rentan.
“Kenapa kita harus membuktikan kewarganegaraan terlebih dahulu? Nenek moyang kita telah berjuang untuk bangsa ini,” kata Zakeera Roohi, mahasiswa Universitas Jamia Millia Islamia.
Demonstrasi ini juga diikuti oleh banyak kelompok non-Muslim yang khawatiran undang-undang baru itu akan merusak tradisi masyarakat India yang pluralistik.
“Saya warga Hindu, tetapi undang-undang ini akan menimbulkan dampak pada saya karena sesama warga negara dan mahasiswa ikut terkena dampaknya,” kata Sumedha Poddar, mahasiswa Universitas Jamia Millia Islamia.
Demonstrasi ini menggarisbawahi kekhawatiran diantara warga Muslim dan pengecam Modi bahwa pemerintahannya terus mengedepankan agenda-agenda kelompok nasionalis-Hindu.Yang pasti kelompok-kelompok perempuan kini menjadi salah satu tulang punggu aksi demonstrasi yang kian meluas di sejumlah kota itu. [*voa]
Interaksi Berita