Konflik Perang Proksi Akan Berdampak Terjadinya Perang Dingin Modern

SAINTIFIK ✪ Konflik ketegangan saat ini yang terjadi di Palestina, Irak, Suriah, Afghanistan berikut Ukraina digulirkan oleh sejumlah pemimpin dan politisi dunia sebagai “perang proksi.” kontinuitas Perang Dingin ini masih tetap berlangsung pengaruhnya terhadap tatanan geopolitik hingga sekarang.

Editor media ini memaparkan pikiran opini dengan presumsi menurut metodis pengamatan analisis dan saintifik tentang dampak konflik perang proksi dalam pertikaian hegemoni.

Konflik yang terjadi di Palestina, Irak, Suriah, Afhanistan dan Ukraina dapat diklasifikasikan sebagai pertempuran proksi (perang fraksi), dimana pihak yang berkonflik memiliki rencana strategis dengan berbagai aspek eksternal yang melibatkan pertikaian dominasi kekuatan negara-negara adikuasa sebagai hegemoni untuk menunggangi pihak-pihak yang berkonflik tersebut.

Disamping itu interaksi dari aspek eksternal dapat berupa suatu dukungan suplai senjata, pendanaan, dan intelijen taktis yang dibutuhkan sebagai unsur moril dalam pertempuran, seperti yang terjadi di negara berkonflik saat ini. Selain aktor negara-negara yang berselisih, dalam penerapan metode perang proksi juga melibatkan peran tentara-tentara bayaran.

Lingkup konflik yang terjadi sejauh ini tidak hanya dari faktor geopolitik, aneksasi maupun mobilisasi kekuatan militer, tetapi juga akan berdampak pada berbagai aspek dimensi kehidupan dalam tatanan politik, ekonomi, sosial budaya, dan hukum.

Kontinuitas Perang Dingin
Metode perang proksi sering digunakan pada saat narasi Perang Dingin terjadi, dimana masing-masing dunia Barat maupun dunia Timur melakukan propaganda dengan pengaruh dan kepentingan secara tidak langsung melalui berbagai konflik hingga ke negara-negara Ketiga, termasuk penderitaan yang dialami Indonesia ketika itu.

Selama lebih dari empat dasawarsa, preseden Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet telah mengobarkan sejumlah kekerasan perang proksi di seluruh negara yang berkonflik.

Berakhirnya Perang Dingin pada 1991 disertai bubarnya Uni Soviet dan aliansi Pakta Warsawa, dimana penggunaan persenjataan nuklir serta merta menurun setelah tercapainya resolusi Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir antara Washington dan Moskow pada 1990.

Populernya ketegangan Perang Dingin sampai sekarang, seiring bergulirnya berbagai penafsiran terhadap konflik tersebut sehingga menjadi perdebatan sengit di kalangan sejarawan, analis, dan jurnalis.

Perang Dingin saat ini masih tetap berlangsung pengaruhnya terhadap tatanan geopolitik, demikian Amerika Serikat maupun Rusia memiliki kepentingan geopolitik yang berbeda. Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) masih tetap mendominasi hegemoninya, dimana aliansi tersebut berkembang dengan pesat hingga ke lintas batas Rusia termasuk negara-negara bekas Soviet dan bekas anggota Pakta Warsawa.

Ketegangan yang terjadi antara Rusia dan Barat baru-baru ini semakin memanas, sehingga Moskow mengambil sikap menyerang negara serumpunnya pada akhir Februari 2022 dengan misi operasi militer khusus untuk menginvasi Ukraina.

Kembali merunut preseden Perang Dingin peristiwa lampau hingga Perang Dingin saat ini, realitasnya masih tetap populer berlangsung di sejumlah negara berkonflik dengan menggaungkan perang proksi, yang telah menelan korban kekerasan.

Jika konflik perang proksi yang terjadi di belahan dunia saat ini tidak segera untuk dinormalisasikan, dikhawatirkan “Perang Dingin Modern” akan berlaku.

John Fitzgerald Kennedy dikenal dengan nama JFK, Presiden Amerika Serikat ke-35 dalam catatan filosofinya perlu untuk direnung kembali, “Perdamaian dunia tidak mengharuskan setiap orang untuk mencintai sesamanya akan tetapi mesti hidup bersama dengan interaksi toleransi, serta mengusung penyelesaian perselisihan yang adil dan damai.” (rt)

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: