Google Singkap Peretas Data Informasi dan Spionase

Google mengungkapkan bahwa peretas berbasis negara telah menargetkan kampanye Presiden Donald Trump dan mantan Wakil Presiden Joe Biden. Perusahaan mengkonfirmasi temuan tersebut setelah direktur Threat Analysis Group, Shane Huntley, mengungkapkan upaya tersebut di Twitter.

BOSTON ✪ Google menegaskan bahwa peretas yang didukung oleh suatu negara telah menargetkan aktifitas komunikasi Presiden Donald Trump dan mantan Wakil Presiden Joe Biden, meskipun belum terbukti bahwa upaya phishing tersebut berhasil.
Perusahaan Google mengkonfirmasi temuan tersebut setelah direktur Threat Analysis Group, Shane Huntley, mengungkapkan upaya itu di Twitter, Kamis, (4/6/2020).
Huntley mengatakan kelompok Cina yang dikenal sebagai “Badai Panda” telah menargetkan aktifitas komunikasi staf kepresidenan Trump, sementara itu kelompok Iran yang dikenal sebagai “Charming Kitten” telah berusaha untuk melanggar akun staf Biden. Upaya phishing semacam itu biasanya melibatkan email palsu dengan tautan yang dirancang untuk mengumpulkan kata sandi atau menginfeksi perangkat dengan malware.
Seorang juru bicara Google mengatakan upaya tersebut menargetkan akun email personal di kedua staf tersebut. Ia juga menambahkan linimasa baru-baru ini, beberapa orang telah menjadi sasaran aktifitas komunikasi pada kedua pihak.
Google telah mengirim kepada pengguna yang ditargetkan yakni peringatan serangan standar yang didukung pemerintah terkait, dan merujuk insiden itu ke penegak hukum federal.
Direktur Laboratorium Penelitian Forensik Digital Dewan Atlantik, Graham Brookie menyebut pengumuman itu sebuah pengungkapan utama dari pengaruh aktivitas yang dimungkinkan oleh dunia maya.
Pihak Trump telah diperingatkan bahwa para aktor asing telah gagal dalam upaya melanggar jaringan teknologi.
Badai Panda, dikenal oleh para peneliti keamanan sebagai Zirconium atau APT31, singkatan dari “ancaman persisten tingkat lanjut”, infiltrasi siber tersebut berfokus pada pencurian kekayaan intelektual dan spionase. Charming Kitten, juga dikenal sebagai Newscaster dan APT35, dilaporkan telah menargetkan pejabat dan bisnis pemerintah AS dan Timur Tengah, dan juga untuk pencurian informasi dan mata-mata.
Pada Oktober, Microsoft mengungkapkan peretas yang terkait dengan pemerintah Iran sebagaimana telah menargetkan kampanye presiden AS, New York Times dan Reuters, dan mengidentifikasi target tersebut sebagai kampanye pemilihan ulang Trump.
Mantan direktur Badan Keamanan Nasional, Keith Alexander, mengatakan dalam sebuah seminar online bahwa saingan geopolitik AS telah meraup keuntungan dari krisis COVID-19 dan keresahan di AS.
“Ini adalah peningkatan waktu yang saya pikir bagi musuh untuk melukai negara kita dan saya pikir mereka akan mengambilnya selama pemilihan,” kata dia, Kamis (4/6/2020).
Associated Press (AP)
Interaksi Berita