Bocah di Kundur Dibawa Pelesir dan Dicabuli, Tersangka Terancam Dikebiri

KUNDUR, KARIMUN ✪ Kepolisian Sektor (Polsek) Kundur, Polres Karimun, Polda Kepulauan Riau menindaklanjuti kasus tindak pidana dugaan pencabulan terhadap anak dibawah umur yang dilakukan oleh seorang oknum Ketua RT (46) di Kecamatan Kundur.

Kapolsek Kundur, Kompol Muhamad Qomarudin menjelaskan kronologis singkat peristiwa, kasus tersebut tersibak setelah korban (NN) berusia 3,6 tahun merasakan keluhan di kemaluannya saat dimandikan oleh ibunya (SR). Melihat anaknya itu menangis dan kesakitan saat buang air kecil, ibu korban (SR) memeriksa korban (NN), dan selanjutnya ditemukan noda cairan kemerahan di celana dalamnya.

“Kejanggalan itu menimbulkan kecurigaan ibu korban (SR) dan memberitahukan kepada suaminya (RJ) selanjutnya korban dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan visum et repertum (VER), dan hasil pemeriksaan ditemukan lecet kemerahan,” singkapnnya kepada media, Minggu (22/5/2022).

Mendalami uraian peristiwa tersebut, Kompol Muhamad Qomarudin mengatakan bahwa modus operandi tersangka sebelumnya sering membawa korban untuk berpelesiran atau bersenang-senang.

“Tersangka sering membawa korban jalan-jalan menggunakan sepeda motor, sehingga interaksi berlangsung antara tersangka dengan korban,” ucapnya.

Kapolsek Kundur lebih jauh menguraikan dari hasil pengembangan dalam rangkaian penyelidikan dan gelar perkara ditemukan dua alat bukti, dan pemeriksaan saksi-saksi berikut penyitaan barang bukti mengarah kepada orientasi perbuatan pelaku.

“Sebagai bukti permulaan yang cukup, status perkara ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan untuk penetapan tersangka,” tutur Kompol Muhamad Qomarudin.

Sebelum itu menurut dia, terhadap tersangka RT telah kita lakukan penangkapan pada Kamis 28 April 2022 lalu di rumahnya di Tanjung Batu Kota Kecamatan Kundur “tersangka melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak perempuan dibawah umur.”

Disamping itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, tersangka dijerat pasal 82 ayat (1) UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti UU nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, dan denda paling banyak lima belas miliar rupiah.

Selain itu tersangka tidak menutup kemungkinan juga terancam pasal 81 ayat (5) juncto 76D UU RI nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dipidana dengan pidana mati, seumur hidup atau pidana penjara paling singkat sepuluh tahun dan paling lama dua puluh tahun, dan dapat dikenai tindakan tambahan kebiri kimia. (jam)

 

Penulis: J. Nababan
Editor: Rizal Tanjung

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: