Rusia: Perjanjian Senjata Nuklir Terakhir Satu Tersisa, Bahayanya Nyata!

Hukum internasional tidak lagi sebagai tiang penyangga, akan tetapi tunduk terhadap 'tatanan dunia berbasis aturan', dimana aturan tersebut menjadi ancaman global terhadap nilai-nilai demokrasi dan Koridor Kemanusian.

MOSKOW ✪ Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov pada Senin(25/4), mengatakan bahwa perang atom tentu tidak dapat diterima dan posisi Moskow berhasil untuk membujuk AS berikut kekuatan nuklir lainnya pada Januari, namun situasinya berubah semakin memburuk ke titik di mana adanya suatu ancaman serius dan nyata.

“Rusia mencoba membujuk Presiden AS Donald Trump ketika itu untuk berkomitmen kembali pada pernyataan yang telah disepakati pada 1987 oleh para pemimpin AS dan Soviet, bahwa tidak akan ada pemenang dalam perang nuklir, dan perang seperti itu tidak dibenarkan untuk diperjuangkan,” tegas Lavrov dalam wawancara dengan ‘The Great Game’, sebuah acara bincang-bincang politik di Channel One Rusia.

Ketika itu, pemerintahan Trump menolak untuk menyatakan sikap, sementara penggantinya Joe Biden “segera” setuju dengan Moskow, dan pernyataan tersebut disepakati pada pertemuan puncak pada Juni 2021 dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Jenewa.

China, Prancis, dan Inggris sebagai tiga kekuatan nuklir yang tersisa juga merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB serta merta menyetujui untuk membuat pernyataan bersama.

“Ini adalah posisi yang sangat prinsip bagi kami. Kami memulainya dari itu,” kata Lavrov.

Namun lanjutnya, parameter risiko perang nuklir sekarang “sangat signifikan. Saya tidak ingin hal ini digaungkan secara artifisial. Bahayanya nyata, dan tidak bisa diremehkan.”

Lavrov memuji dengan “baik dan bijaksana” langkah kebijakan luar negeri pertama pemerintahan Biden, yang setuju dengan Rusia bahwa perjanjian ‘New Start’ harus diperpanjang tanpa syarat selama lima tahun.

Perjanjian ‘New Start’ adalah perjanjian kontrol senjata nuklir terakhir yang tersisa, setelah Washington menarik diri dari perjanjian ABM, INF, dan Open Skies. Demikian dilansir dari RT News.

Seperti diplomat terkemuka Rusia menganalogikan situasi saat ini sama dengan krisis rudal Kuba pada 1962 atau Krisis Karibia, yang dikenal di Moskow. Saat itu, dia mengatakan tidak banyak aturan “tertulis”, tetapi aturan perilaku implisit jelas untuk diikuti oleh Washington dan Moskow.

“Tahun-tahun krisis berlalu, masih ada saluran komunikasi yang dipercaya oleh kedua pemimpin. Namun sekarang tidak ada lagi saluran seperti itu, dan tidak ada yang berupaya untuk mewujudkannya,” ulas Lavrov. (*)

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: