Rusia Dorong Penyelidikan Kuburan Massal di Pangkalan Prancis di Mali

Moskow mengharapkan Paris membantu penyelidikan terhadap narasi pembunuhan dan penghilangan paksa warga, alih-alih Prancis menggunakan kesempatan itu untuk menodai citra militer Mali.

MOSKOW ✪ Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan pada Jumat(22/4), menyerukan penyelidikan menyeluruh terhadap pembunuhan dan penghilangan paksa warga Mali. Media Barat mungkin berasumsi menyalahkan Angkatan Bersenjata Mali (FAMA) atas dugaan kekejaman setelah kuburan massal ditemukan di dekat sebuah kamp pasukan Prancis di Mali tengah.

“Kami mendukung keputusan pihak berwenang Mali untuk menyelidiki kondisi kejahatan ini dengan menyeluruh,” kata kementerian itu, seraya menambahkan bahwa pihaknya mengharapkan “Paris berkontribusi secara efektif dalam penyelidikan pembunuhan dan penghilangan paksa warga Mali.”

Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah video streaming muncul di media sosial yang diduga menunjukkan kuburan massal dengan puluhan mayat ditemukan di sebuah kamp militer yang pernah diduduki oleh pasukan Prancis yang mengambil bagian dalam Operasi Barkhane di Mali dan negara-negara tetangga Afrika.

Angkatan Bersenjata Mali (FAMA) mengkonfirmasi Jumat(22/4) malam, bahwa mereka menemukan kuburan massal di dekat bekas kamp Prancis di Gossi, Mali tengah. Pasukan Prancis meninggalkan “pangkalan operasional lanjutan” pada hari Selasa(19/4), dan menyerahkannya kepada militer Mali. Pangkalan itu dilaporkan menampung ratusan tentara Prancis.

“Mayat yang dalam keadaan membusuk menunjukkan bahwa kuburan massal sudah ada jauh sebelum serah terima,” kata Angkatan Bersenjata Mali (FAMA), dan menyangkal “pertanggung jawaban, tindakan ini sama sekali tidak dapat dikaitkan dengan tentara Mali.”

Menurut Kementerian Pertahanan Mali, akan membuka penyelidikan atas kasus tersebut.

Sementara Tentara Prancis segera bereaksi terhadap perkembangan tersebut dengan menyebut insiden itu sebagai bagian dari “perang informasi” dan menyalahkan Grup Wagner, sebuah organisasi paramiliter Rusia (perusahaan militer swasta) dengan jaringan tentara bayaran yang ditempatkan di seluruh dunia, termasuk Mali, dan negara-negara Afrika lainnya.

Militer Prancis juga mengklaim bahwa mereka memiliki rekaman drone yang diduga menunjukkan personel paramiliter Grup Wagner mengubur mayat di dekat pangkalan setelah penarikan pasukan Prancis. “Informasi yang sangat tepat membuat kami mengatakan bahwa ini adalah orang-orang Wagner. Kami tidak ragu,” kata Angkatan Darat Prancis kepada Le Monde.

Namun, surat kabar tersebut mengatakan bahwa kualitas video “tidak memungkinkan untuk menentukan warna kulit orang-orang di sekitar mayat-mayat itu,” dan pembuktian idiosinkrasi tersebut menunjukkan seragam militer mereka tidak cocok dengan seragam yang dimaksud.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa beberapa media Prancis atau pejabat publik mungkin “tergoda untuk menyebarkan narasi [tertentu] di media yang ditujukan untuk melawan militer Mali.”

Kementerian Luar Negeri Rusia juga menjelaskan keberhasilan Angkatan Bersenjata Mali berkemungkinan telah “mengusik” Paris karena pasukan Prancis gagal mencapai hasil yang sama selama misi operasi mereka di negara itu. Demikian dilansir dari RT News.

Prancis meluncurkan Operasi Barkhane pada tahun 2014, bermitra dengan lima bekas koloni di Sahel (Burkina Faso, Chad, Mali, Mauritania, dan Niger), dan dukungan dari sejumlah kecil negara Eropa.

Presiden Prancis Macron mengumumkan pada Juli 2021, bagaimanapun operasi akan berakhir pada kuartal pertama 2022. Tujuan koalisi adalah untuk mencegah kawasan itu menjadi tempat yang aman bagi kelompok milisi.

Hubungan antara Paris dan Bamako memburuk setelah Mali mengalami dua kudeta dalam kurun waktu dua tahun, dan junta militer yang berkuasa menolak untuk mengadakan pemilihan umum pada Februari. Mali yang masih memerangi pemberontakan ketika itu, mengatakan kepada Prancis pada Januari agar mengendalikan “refleks kolonial.” (*)

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: