Peristiwa Bucha Perlu Instrumen Penyelidikan Proposisi

DelikPOS ✪ Seorang sejarawan Rusia, Evgeny Norin yang khusus meneliti perang Rusia dan politik internasional menegaskan bahwa sejumlah kematian warga sipil di Bucha hendaknya dilakukan dengan langkah-langkah pembuktian kebenaran (proposisi). Namun dirinya mengkuatirkan terjadinya suatu pembenaran informasi atau pembantaian propaganda.

Serangan operasi militer Rusia di Ukraina saat ini masih tetap berlangsung, bahkan peristiwa baru-baru ini sempat menjadi gelombang kejut ke seluruh dunia dengan berbagai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Bergulirnya konflik, ketika serdadu Rusia ditarik kembali dari Bucha sebuah kota di Oblast Kyiv Ukraina, pihak berwenang setempat alih-alih melaporkan adanya temuan sejumlah mayat warga sipil yang tewas. Bahkan otoritas Ukraina menganalogikan apa yang terjadi di Bucha saat ini dengan peristiwa pembantaian Srebrenica di kota Balkan yang menjadi figuratif sejarah perang mematikan di Yugoslavia.

Pemberontakan di Donbass dan serangan operasi militer saat ini telah menghasilkan konflik berdarah pasca-Soviet. Infiltrasi ke Mariupol selama serangan Moskow, dimana sejumlah prajurit Rusia yang menjadi tawanan perang, gugur ditembak mati oleh tentara Ukraina. Bahkan serangan balik artileri dari pasukan Kiev ke daerah pemukiman Donetsk, hanyalah segelintir dari bentuk kekerasan dalam pertempuran sejauh ini.

Pada 25 Februari dan pertengahan Maret, ketika pasukan Rusia menguasai kota kecil ini, terjadi pertempuran sengit. Akan tetapi sekitar akhir Maret, sekembalinya pasukan Rusia, konvoi pasukan Ukraina memasuki kota dengan membonceng wartawan barat dari media pemerintah Prancis. Bahkan, mereka menemukan lusinan warga sipil yang tewas tanpa dikubur selama berminggu-minggu, menurut para wartawan tersebut.

Mengutip dari sejarawan Rusia, Evgeny Norin melalui RT News, apa yang terjadi di Bucha merupakan tragedi yang mengerikan. Sebagai atensi, baik Rusia maupun Ukraina perlu segera mungkin mengupayakan pertemuan darurat di Dewan Keamanan PBB tentang instrumen peristiwa yang terjadi di kota itu. (*)

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: