Pacquiao Berjanji Memburu Kekayaan Marcos Jika Terpilih Menjadi Presiden Filipina

MANILA ✪ Ikon petinju Filipina Manny Pacquiao pada Jumat (4/2), berjanji jika dirinya terpilih sebagai presiden ia akan memperkuat upaya untuk memulihkan anggaran miliaran dolar kekayaan yang hilang sejak jatuhnya kediktatoran Marcos, sebagai bagian dari program anti-korupsinya.

Pacquiao melontarkan hujatan pada pesaing politiknya Ferdinand Marcos Jr berikut keluarganya yang dituduh telah menjarah sekitar $10 miliar selama dua dekade pemerintahan mendiang ayahnya karena menggelontorkan angaran untuk perhiasan mewah, real estat dan sejumlah karya seni termasuk milik Pablo Picasso, dan Claude Monet.

Selain itu Pacquiao mengatakan bahwa Komisi Presidensial untuk Pemerintahan yang Baik (PCGG) akan memperoleh kembali kekayaan sebanyak $3,41 miliar dari keluarga Marcos dan rekan-rekan mereka selama 33 tahun berkuasa, dan annggaran tersebut akan diberdayakan untuk pemulihan jika dia memenangkan pemilihan pada 9 Mei nanti.

“Kami akan memperkuat PCGG dan uang yang menjadi milik pemerintah harus dikembalikan kepada pemerintah,” kata Pacquiao dalam forum calon presiden, di mana Marcos Jr yang lebih dikenal sebagai “Bongbong” tidak hadir karena bentrok jadwal.

“Alasan mengapa negara kita miskin adalah karena ulah para perampok di pemerintahan dan itulah mengapa kita perlu memberantas korupsi,” kata Pacquiao, seorang senator dan mantan juara delapan divisi itu menambahkan.

Sementara tim kampanye Marcos Jr belum menanggapi berbagai komentar, demikian dikutip dari Reuters.

Dalam sebuah wawancara radio pada 25 Januari, Marcos Jr mengakui keputusan pengadilan terhadap keluarganya terkait aset dan akan menghormati hukum, dan keputusan pengadilan.

Sejumlah tokoh seperti Pacquiao, calon presiden lainnya, Wakil Presiden Leni Robredo, Walikota Manila Francisco Domagaso, Senator Panfilo Lacson dan Leody de Guzman seorang pemimpin buruh, semuanya berjanji untuk membasmi korupsi di pemerintah berikut melindungi dana publik.

Meskipun digulingkan dalam pemberontakan 1986 dan diusir ke pengasingan, keluarga Marcos tetap menjadi kekuatan yang berkuasa di Filipina dengan loyalis di seluruh birokrasi, elit politik, dan bisnis.

Keluarga tersebut kembali ke Filipina pada 1990-an dan Marcoses telah memegang jabatan politik sejak itu termasuk gubernur, anggota kongres, dan senator. (**)

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: