Dubes: Konflik Palestina Bukan Persoalan Keyakinan Namun Agitasi Politik

Persoalan selama 74 tahun ini tak kunjung usai, karena persoalan instrumen politik dan 'political will' dipropagandakan untuk mengagitasi kepentingan tertentu oleh kelompok-kelompok yang berkonspirasi.

YERUSALEM, RAMALLAH ✪ Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Dr. Zuhair Al Shun kembali meyakinkan masyarakat bahwa pertikaian di kawasan itu adalah persoalan politik. Penegasan ini penting, karena di Indonesia, konflik Palestina sering dianggap berlandaskan agama.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Dr. Zuhair Al Shun kembali meyakinkan masyarakat bahwa pertikaian di kawasan itu adalah persoalan politik. Penegasan ini penting, karena di Indonesia, konflik Palestina sering dianggap berlandaskan agama.

Ketika memberikan kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Zuhair memaparkan bahwa Palestina terbentuk oleh komunitas Muslim, Kristen dan Yahudi yang awalnya dulu tinggal bersama dalam damai.

“Banyak orang Yahudi yang masih tinggal bersama kami di kota Yafa, tidak ada masalah. Kami melakukan muamalah atau berinteraksi sosial secara biasa, sesuai tuntunan yang ada,” kata Zuhair di Yogyakarta, Selasa (17/5).

Zuhair mengisi Ambassadorial Lecture bertema The Future of Palestine: Paving The Way for Sustainable Peace.

Kondisi mulai berubah, pasca Deklarasi Balfour pada 1917, yang membuat seolah-olah bangsa Yahudi diberikan rumah. Sejak saat itu, sejumlah pihak mulai berusaha memelintir apa yang awalnya sebuah konflik politik, menjadi perang agama.

“Belakangan agama juga dijadikan kendaraan, tameng untuk mencari massa, mencari dukungan, sehingga kemudian mulailah ada oknum-oknum yang membuat kekacauan di masjid, di gereja dan seterusnya, semata-mata untuk menggambarkan bahwa ini konflik agama,” papar Zuhair.

Dia juga menambahkan, bagi Muslim, kitab suci sudah memberikan dalil kuat untuk menyatukan kekuatan melawan Israel atas nama agama. Namun Zuhair sekali lagi mengulang, konflik yang terjadi bukan soal agama. Karena itu penyelesaian yang dilakukan adalah pendekatan politik. Membantu Palestina juga bukan hanya soal membantu Muslim, tetapi juga mendukung umat Kristen yang hidup di sana.

Baca Juga: Indonesia Peringatkan Israel dan Menikai Pengusiran Paksa Warga Palestina

Justru, bagi bangsa Palestina konsep ahlul kitab mendekatkan agama-agama yang ada. Konsep ini menerangkan bahwa orang-orang Yahudi, Nasrani dan Islam memiliki kedekatan karena agama mereka sama-sama semitik atau samawiyah.

“Jadi kami bisa memiliki pola berpikir, pola penerimaan atau pola beragama yang mirip. Jadi sebenarnya tidak ada masalah, kami bisa hidup berdampingan,” tegasnya.

Persoalan selama 74 tahun ini tidak selesai, karena masalah politik yang muncul, dipropagandakan untuk kepentingan tertentu oleh kelompok-kelompok yang berkonspirasi. Tidak mengherankan, katanya, jika krisis di Palestina tidak selesai sampai hari ini.

“Hari ini, kita sudah 74 tahun dalam memori, mengenang apa yang disebut dengan Nakba atau hari ketika pada 1948 Israel menempati Palestina. Sejak saat itu 6,5 juta warga Palestina menjad pengungsi, tersebar di seluruh penjuru dunia, merasakan penderitaan, kedholiman yang dipicu oleh konspirasi politik, oleh beberapa negara, untuk mengelabuhi fakta,” tambahnya.

Zuhair mengingatkan, fakta sejarah membuktikan bahwa Palestina adalah Tanah Air mereka, dan itu tidak bisa dihindari. PBB telah memutuskan pembagian wilayah 56 persen untuk Israel dan 44 persen untuk Palestina. Namun penguasaan wilayah terus dilakukan Israel, hingga hanya 22 persen wilayah yang dikuasai Palestina. Upaya pencaplokan masih terus dilakukan sampai saat ini.

Rektor UII, Fathul Wahid, menyebut penyelenggaraan kuliah umum ini adalah bentuk dukungan universitas tersebut bagi perjuangan bangsa Palestina. Bukan kali ini saja, berbagai bentuk dukungan, terutama penggalanan dana dan sumbangan pemikiran telah dilakukan UII sejak sepuluh tahun terakhir.

“Seperti sudah kita ketahui bersama, Palestina adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, bahkan sebelum proklamasi kemerdekaan itu sendiri,” kata Fathul memberi alasan.

Dalam kesempatan kali ini, UII juga menyampaikan sumbangan dana Rp100 juta bagi rakyat Palestina melalui duta besarnya.

“Kami ingin berterimakasih dan menunjukkan dukungan. Doa kami akan bersama seluruh rakyat Palestina. Mohon jangan dilihat jumlah sumbangan yang mampu kami berikan. Ini datang dari hati kami yang paling dalam,” tambahnya.

UII akan memberikan beasiswa bagi lima mahasiswa Palestina setiap tahunnya, satu diantaranya di Fakultas Kedokteran. Saat ini ada dua orang mahasiswa Palestina yang menempuh pendidikan master di UII, baik melalui beasiswa maupun biaya sendiri.

Baca Juga: Diplomat AS dan Liga Arab Berupaya Mengakhiri Kekerasan di Palestina

Dalam pernyataan tertulis, Anggota DPR RI Fraksi PKS, Bukhori Yusuf, juga menyampaikan dukungan bagi perjuangan kemerdekaan Palestina. Dukungan itu, dia sampaikan secara langsung di kantor kedutaan Palestina di Madrid, Spanyol. Turut dalam pertemuan itu, Duta Besar Indonesia untuk Spanyol Dr. Muhammad Najib.

“Mewakili pimpinan dan anggota Komisi VIII DPR RI, kami menyampaikan belasungkawa sekaligus pesan solidaritas kami untuk perjuangan rakyat Palestina. Kami menyadari bahwa situasi di sana kian getir belakangan ini, terlebih setelah insiden gugurnya jurnalis senior Aljazeera keturunan Palestina, Shireen Abu Akleh, akibat ditembak oleh tentara zionis Israel,” kata Bukhori dalam pernyataannya, Minggu (15/5).

Shireen Abu Akleh adalah jurnalis Al Jazeera keturunan Palestina berkewarganegaraan Amerika Serikat. Jurnalis perempuan itu tertembak saat meliput serangan tentara Israel di kamp pengungsi Jenin, Tepi Barat.

Anggota Komisi VIII DPR ini juga berharap pesan solidaritas bangsa Indonesia bisa mengobati luka rakyat Palestina.

“Sekaligus juga dapat membangkitkan kesadaran masyarakat dunia untuk berdiri tegas dan konsisten mendukung kemerdekaan rakyat Palestina,” kata Bukhori lewat pernyataan tertulis. [ns/ab]

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: