Gelora Keberagaman dan Kebersamaan Dalam Perspektif Perayaan Natal

Perayaan Natal seringkali identik dengan suasana sakral, meriah dan sesuai tata liturgi. Namun perayaan Natal yang diadakan Roemah Bhinneka pertengahan pekan ini menghadirkan semangat kebangsaan dan keberagaman, bahkan digelar oleh panitia dari agama selain Kristen.

SURABAYA, JAWA TIMUR ✪ Muda-mudi lintas agama di Surabaya dan sekitarnya, berkumpul merayakan Natal dalam nuansa kebangsaan. Tidak banyak atribut keagamaan di tempat perayaan, namun refleksi Natal menjadi bahasan pada perayaan yang dikemas dalam dialog santai. Setiap perwakilan agama-agama yang hadir memberikan refleksinya, sesuai tema Natal nasional, yaitu “Cinta Kasih Kristus yang Menggerakkan Persaudaraan.”

Ketua panitia penyelengara, Listia Masruroh, mengatakan perayaan Natal kali ini menghadirkan kelompok lintas agama, yang ingin menyampaikan pesan bahwa ruang bersama harus terus dihadirkan untuk meminimalkan narasi-narasi yang membangun sekat-sekat antar anak bangsa.

“Kita ingin merayakan sebuah Natal yang secara inklusif, artinya bisa diikuti oleh semua umat beragama, semua suku, itu disitu melebur jadi satu. Dan kita pun juga ingin menjauhkan dari sekat-sekat atau pun juga narasi-narasi di luar sana yang mencoba membatasi kita untuk hidup berdampingan atau hidup damai. Misalnya di luar sana ada narasi untuk larangan mengucapkan hari Natal, atau mengikuti perayaan Natal, dan kita ingin malah menghadirkan ruang untuk bersama,” tukas Masruroh.

Koordinator Jaringan Islam Anti-Diskriminasi (JIAD), Aan Anshori, mengapresiasi perayaan Natal bersama lintas agama, yang dihadiri pula kelompok minoritas lainnya. Aan mengatakan, perayaan Natal kali ini sangat berbeda karena panitia pelaksana adalah muda-mudi dari agama selain Kristen.

Anshori mengatakan, “Perayaan yang identik dengan agama Kristen maupun Katolik, ternyata bisa dihelat, bisa dirayakan oleh semua lintas agama, karena hampir semua agama datang, juga teman-teman kelompok minoritas identitas gender dan seksual juga datang. Dan yang menarik itu kami sangat PD (percaya diri), karena mungkin ini baru pertama kali Natalan yang campur-campur, dan koordinator pelaksananya adalah teman-teman Muslim.”

Ditambahkannya, perayaan hari besar seperti Natal ini maupun hari besar agama lainya, harus terus diadakan dalam semangat kebersamaan tanpa memandang perbedaan sebagai suatu hal yang menghalangi satu sama lain saling menghormati.

“Kami ingin menyampaikan kepada publik bahwa harusnya perayaan hari besar itu dengan tema ke-Indonesiaan itu bisa dinikmati oleh tidak hanya yang memiliki perayaan itu, tetapi dinikmati oleh semuanya,” ujar Anshori.

Sementara aktivis Roemah Bhinneka, Michael Andrew, menilai perayaan Natal tahun ini menjadi saat yang tepat untuk kebangkitan seluruh elemen bangsa, agar bersama-sama membangun kehidupan yang lebih baik dalam bingkai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

“COVID-19 ini di tahun 2022 benar-benar sirna dan harapannya kita semua bangkit baik secara ekonomi, secara keberagaman. Kalau semuanya ini sudah oke, kita tentu untuk memikirkan kebangsaan, kebhinnekaan, pruralisme, dan sebagainya, termasuk pekerjaan, itu akan lebih gampang,” jelas Michael. [pr/em]

Interaksi Berita
Interaksi Komentar: