Australia Tuding China Tunggangi Operasi Infiltrasi Siber

CANBERRA, AUSTRALIA ✪ Perdana Menteri Australia Scott Morrison Jumat (19/6), mengatakan negaranya saat ini sedang menghadapi ancaman serius dan menjadi target serangan peretas. Serangan siber yang ditunggangi suatu negara itu semakin meningkatkan intrusinya, mengancam sistem pemerintahan, bisnis, pusat layanan, dan infrastruktur sebagai objek utama.
Morrison saat ini belum bersedia untuk menyebut nama negara itu, meski demikian ia menjelaskan hanya negara yang menggunakan teknologi mutakhir mampu melakukan itu. Sejumlah dugaan menilai serangan ransomware tersebut merupakan bagian keretakan hubungan kedua negara, Australia dan China.
Dia juga mengatakan, sejumlah sektor strategis telah menjadi target sasaran oleh intrusi siber tersebut untuk mendapatkan serpihan informasi, dan hal itu telah menyebabkan kerugian.
“Ini merupakan tindakan kelompok peretas berbasis negara dengan kemampuan signifikan. Kelompok peretas yang memiliki kemampuan tersebut tidak banyak,” kata Morrison.
Sementara itu, Lembaga Kebijakan Strategis Australia ( ASPI ) melalui Direktur Eksekutif Think Tank, Peter Jennings mengatakan hanya China yang memiliki kemampuan meluncurkan serangan siber tersebut terhadap Australia.
“Saya yakin china di belakang itu,” ungkap Jennings.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian menolak tudingan itu dan mengatakan bahwa Tiongkok telah berupaya menentang dan memerangi semua jenis serangan dunia maya.
“Tuduhan terhadap china sama sekali tidak berdasar,” kata Zhao kepada wartawan, Jumat.
Lebih dalam, Morrison menegaskan bahwa China menggunakan strategi intimidasi dalam situasi pandemi ini untuk memperlemah sistem demokrasi barat dengan menyebarkan disinformasi online. Dia juga menjelaskan rincian tentang kegiatan intrusi itu, sebagaimana hal demikian bertujuan untuk mendapatkan rahasia suatu negara, kekayaan intelektual atau informasi data pribadi.
“Investigasi Australia sejauh ini belum menemukan pelanggaran data pribadi skala besar,” kata dia.
Associated Press (AP)
Interaksi Berita